Sabtu, 06 Februari 2010

Aku, Hari Ini

Aku, Hari Ini
Masih sama
Masih seorang Rahmi Ayu Umami
Yang sanguin-melankolis
Yang banyak cita-cita tapi belum tahu apa
Apa yang menjadi obsesi
Apa yang menjadi plagiat
Apa yang menjadi pewarna
Belum punya apa-apa
Untuk disebut sebuah karya hebat

Aku, hari ini
Masih sama
Masih seorang Rahmi Ayu Umami
Yang romantis
Memandang kehidupan sebagai panggung sandiwara
Tempat kubisa memakai topeng
Bernama kasih-sayang
Sesuai arti namanya

Aku hari ini
Masih sama
Masih berharap hal yang sama
‘melakukan setiap aktivitas tanpa merasa berat melakukannya’
Bahwa itu berarti menambah pemahaman, menambah kapasitas
Menanamkan sikap percaya
Tak masalah
Hanya berharap bisa melakukan semuanya
Tanpa cela, tanpa keluh
Dengan seksama, dengan sungguh-sungguh

Ingin menjadi diri yang sesungguhnya
Yang tak pernah menyandarkan keinginannya
Pada apa yang orang lain inginkan untuknya
Ingin merdeka

Ingin mengembara jauh, menemukan diri sendiri
pada bagaimana lingkungan mendidiknya
Ingin bebas

Ingin berguna
Dengan caranya sendiri, tetap ingin berguna
Bahwa itu menjadi seorang trainer, dokter, murabbi
Hanya berharap keterbatasannya memberi guna untuk semua

Ingin mengembara, ingin merdeka, ingin berguna
Berharap umurku cukup untuk menyampaikanku pada satu titik
Dimana aku bahagia atas semuanya

Rabu, 03 Februari 2010

Cita-citaku (yang mungkin orang lain ga tau^^)

“Hal tertragis adalah seseorang yang seumur hidupnya tidak pernah mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya” (Arnold Bennet)

Prinsip saya dalam bercita-cita adalah:
1. Jangan dibatasi, explore sebanyak-banyaknya
2. TULIS!
3. Share sama orang lain

Dua poin pertama sudah sering saya lakukan, Cuma poin ke-3 nih, jarang saya lakukan. Ga semua orang tahu cita-cita saya apa. Saya pikir (dulu) sih ga masalah. Toh yang akan memperjuangkan mimpi-cita-cita- itu kita sendiri, saya sendiri. Orang lain cukuplah, sebagai penonton karya-karya kita yang hebat (kalo mau dibilang hebat). Urusan mimpi urusan saya sendiri.

Namun ada kalanya saya bingung di tengah jalan, tepatnya ketika menyusun step-stepnya. Ketika menjalaninya. Saya butuh motivator, butuh pendukung. Pernah suatu ketika saya mencoba mem-floor-kan target-target saya ke temen sekosan, target-target yang simple sih, kaya target mandi 2x sehari (haha), dll. Ternyata cukup efektif. Seengganya saya merasa tertampar, ketika ternyata temen saya itu yang justru ngelakuin target2 yang saya bikin. Dan saya sendiri merasa malu, tidak melaksanakan apa yang sudah saya bilang dengan berapi-api “pokoknya tahun ini saya mesti rajin mandi 2x sehari!!”. Taunya ga rutin dilaksanakan..haha. tapi setidaknya saya belajar sesuatu.

Fungsi mimpi yang tertulis adalah sebagai pengingat kita. Namun bedanya, bila mimpi/cita-cita tsb dishare-kan, ‘pengingat’ nya setidaknya punya mulut untuk berbicara “lho, dulu kan pernah punya mimpi blablaba, sekarang gimana pencapaiannya?”, punya senyum untuk memotivasi, punya pundak untuk ditangisi ketika akhirnya ikhtiar kita belum mencapai hasil yang diinginkan. Lagian senang kan, punya orang yang bisa mengerti kita, cita-cita kita.

Nah, ini list mimpi-mimpi saya yang mungkin orang lain ga tau. Mau mulai merapihkan lagi, moga dimudahkan ya^^:

1. Jadi konsultan pernikahan (udah diulas sedikit di tulisan sebelumnya). Tapi kerjanya ingin secara tim. Bisa berupa even pelatihan parenting, sesi konsultasi, blog parenting. Sering liat acaranya Helmy Yahya di RCTI malem2: Masihkah Kau Mencintaiku?. Nah seperti itulah kira-kira sasaran kerjanya.

2. Ingin punya sekolah alam & asrama untuk anak-anak jalanan, penyandang cacat. Gimana caranya mereka mandiri, punya keterampilan yang bisa mereka andalkan. Mereka juga bisa merasakan suasana punya keluarga, punya tempat pulang.

3. Ingin punya lembaga pemberi bantuan dana. Nah ini bingung nih bentuknya seperti apa. Seperti pemberi bantuan dana untuk orang-orang yang ingin mulai usaha sendiri. Suka miris melihat tetangga yang pontang-panting cari pinjaman uang buat usahanya. Ingin lebih nyata berkontribusi buat masyarakat.

4. Ingin punya perpustakaan gedeeee banget, di dalamnya ada teleskop sama rumah tanaman (berhubung saya suka astronomi dan suka ngeliat tanaman ijo2). Bukunya lengkap, buku sastra, ttg Islam dan buku kedokteran pasti yang paling banyak. Tahun ini baru bisa targetin punya 100 buku. Doakan yah! ^^

5. Udah hapal Al-Quran sebelum nikah. Inginnya membangun keluarganya benar2 dengan dasar Al-Quran. Kelak anak-anak saya juga jadi hafidz/ah. Amin..

5 poin dulu ah. Nanti disambung.hehe
Saya tahu konsekuensi sesudah menulis ini adalah: menetapkan step-stepnya untuk mencapai cita-cita tersebut. Walaupun sekarang kesannya buat saya adalah SULITT asa JAUUHHH pisannn, tapi ga ada yang ga mungkin kan? YOSH!! SEMANGAT!! >.<



Astagfirullahaldzim

Anis Matta pernah bilang.” Tren keberagamaan di Indonesia sekarang semakin tinggi. Khususnya Islam. Sekarang orang tak takut untuk berjilbab. Bandingkan dengan dahulu. Sekarang lingkaran-lingkaran halaqah semakin banyak. Ini merupakan peluang, karena da’wah akan semakin mudah diterima oleh masyarakat”.

Aku hanya takut, bahwa menjadi pejuang da’wah pun hanya sebagai tren yang kuikuti. Karena teman-temanku demikian, aku takut itu merupakan jawabanku selama ini.

Malam-malam yang kering dari air mata sujud, tilawah-tilawah yang tak banyak, sujud-sujud yang tidak panjang. Apakah itu indikasinya?

Astagfirullahaladzim…

ya, saudaraku tersayang
di atas sungai barito, empat tahun lalu
hadits itu kukirim padamu
lalu aku telah merasa
bahwa saat itu kita menangis bersama

apakah hadits itu menyindir orang sepertiku akh?
engkau bertanya
dan aku bagai ingin membenamkan diri ke arus sungai
dan biarlah ramai pasar terapung menjadi saksi
tidak, hadits itu menamparku
menamparku..

hadits itu dibawakan ath thabrani dan al baihaqi
“akan datang di hari kiamat”, kata sang nabi
“satu kaum yang membawa kebaikan seakbar gunung uhud
lalu Allah jadikan semua itu, bagai debu beterbangan”

sahabat sang rasul bertanya takjub,
“apakah mereka muslim ya rasulallah?”

dan jawaban sang rasul membuat kita harus tertunduk
“mereka muslim.. yang shalat sebagaimana kalian shalat
yang puasa sebagaimana kalian berpuasa
bahkan mereka berdiri di waktu malam menghadap tuhannya..”


lalu mengapa?


“..namun mereka adalah orang-orang yang
jika bersepi dengan apa yang dilarang Allah
mereka melanggarnya..”


empat tahun lalu
dari atas sungai barito
kita bicarakan hadits itu dalam perasaan temaram
dan hati yang berbisik, nurani yang mengusik

kini, empat tahun kemudian
kuseru engkau dari tepian sungai yang keruh itu
mari kita baca kembali

agar hati kita makin memantapkan keistiqamahan

dan tiap detik, ada taubat yang kita perbarui

***

-Tepian Barito, 14 Februari 2009-
Salim A. Fillah

happy family

ingin jadi konsultan pernikahan (mimpiku suatu saat dan sampai sekarang Insya Allah).
tak tahu kenapa, tapi saya pikir keluarga adalah basis utama pendidikan seseorang tentang semua aspek kehidupan..

saya mensurvey beberapa orang yang muncul di suatu organisasi, bagaimana tidak, ada dukungan keluarga di sana, setidaknya dukungan tangan hangat seorang ibu..ada supporter utama, ada dekapan tempat kita berpulang..

cita-cita saya membuat kondisi keluarga yang seperti itu 'happy family'. keluarga yang menginspirasi, yang saling mensupport, yang jadi pendukung utama.

tentunya langkah utamanya dimulai dari sekarang, mengkondusifkan kondisi keluarga sendiri. baru bermimpi, mencari suami soleh, melahirkan anak-anak generasi rabbani, membangun keluarga yang sakinah (haha..kejauhan..). tapi memang harus dipikirin dari sekarang.

(apa sihh, Rahmi??haha..lg iseng)

ITSAR 2015 part 3: Di sinilah tempatku berkarier.

Masalah di ITSAR? Hmm, sebenarnya saya sedikit bingung saat diminta seseorang untuk melist tadi: masalah di ITSAR. ITSAR bagi saya selalu menjadi tempat kembali, tempat mencurahkan cita-cita, tempat bersuka-ria, tempat bersenang-senang, tapi juga tempat bersusah-payah, tempat di mana saya ingin mencurahkan ide-ide gila saya tentang da’wah.

Sewaktu pengumuman SNMPTN, saya sempat menangis. Ada kekhawatiran besar di sana. Jarak Jatinangor-Bandung akan mempersulit aktivitas saya di DS. Saya telepon Teh Rini, “Teh, Rahmi keterima di FK…”. Ada buncah kebahagiaan di sana, tapi.. “Gimana dengan SMP 2, teh?”. Sebenarnya lebih tepatnya: bagaimana dengan saya, tanpa SMP2, tanpa ITSAR, tanpa DS?

Saya tahu bagaimana perasaannya. Orang-orang yang mendapatkan banyak hal luar biasa di sini,
di DS SMP, tentu berat kan, ketika harus meninggalkan tempat ini? Ini rumah saya, ini tempat saya mendapatkan saudara, ukhuwah, keluarga. Terlalu berat, memutuskan bahwa saya harus menjadi seorang aktivis kampus. Ahh, dilematis.

Saya selalu iri, ketika menginjakkan kaki di kampus ITB. Begitu dekat jaraknya dengan SMP. Akan begitu sering bertemu adik-adik. Ria, Nina, posisimu selalu saya impikan. Cita-cita saya mungkin tak sebesar Ka Aria: membangun pondasi DS yang kokoh, DS jadi pabrik kader militan. Mimpi saya sederhana: ingin menunjukkan rasa terima kasih saya, atas apa yang saya dapat selama ini.

Rasa terima kasih, telah bertemu teteh pertama yang begitu baik, Teh Ratna Indriasari. Bertemu teman-teman geng pertama, teman-teman yang saya lupa seberapa seringnya kita pergi bersama. Renang di Arcamanik, jalan-jalan ke BIP, main ke rumah Dhyta, ngingep makan coke-es krim di rumah Sheilla. Sebuah kenangan yang tak terlupakan. Bahkan dulu kita pernah berjanji bersama, selalu menjaga silaturahmi, bahkan saat SMA kita berbeda.

Tapi, akhirnya inilah tempatku berada: FK Unpad. Mengapa tak sekalian saja FK yang jauh, yang di luar kota, sehingga itu benar-benar membuat saya ‘dimaafkan’ karena jarak jauh yang tak memungkinkan? Ya. Mengapa harus FK Unpad? Jawabannya adalah, karena sudah lama saya menyisipkan tekad, ingin jadi teladan untuk adik-adikku, bahwa menjadi seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Unpad bukan menjadi penghalang untuk tetap beraktivitas di DS, walaupun dalam perjalanannya saya harus terseok-seok. Tetap mengusahakan rapat ITSAR, walaupun sedang ujian atau ada aktivitas kampus. Sulit. Perjalanan saja memakan waktu 1,5 jam. Ongkos lumayan besar, bolak-balik Jatinangor-Bandung. Awalnya tak berhasil, tapi saya tak boleh menyerah…

Apakah saya menjadi orang yang apatis di kampus? Mungkin, awalnya saya ingin begitu. Tapi saya tahu, saya butuh mekanisme pertahanan dalam aktivitas saya di kampus (walaupun mungkin aktivitasnya Cuma belajar). Saya punya tanggung jawab moral, tidak bisa diam saat di kampus ada pos-pos ladang amal yang kosong belum terisi. Saya juga ingin berkembang, dengan didikan tangan yang berbeda, tangan kampus. Saya juga ingin menjaga teman-teman saya, dan juga dijaga oleh mereka. Saya tak bisa diam. Teman-teman saya sibuk, sedangkan saya tak mau mendzalimi DS dengan menjadi barisan terdepan, sedangkan dalam kenyataannya saya tak bisa semaksimal Ka Aria, Teh Asti atau Teh Rini. Ah, dilematis. Akhirnya saya memutuskan ambil peran di kampus. Menjadi Ketua Akademik angkatan (sebenarnya proses pemilihan saya sangat panjang, merasa masih belum tepat dalam posisi ini, mengingat saya ga terlalu pintar, akademik saya pas-pasan, Alhamdulillah IP masih di atas 3). Ikut mejeng di DKM Asy-Syifa, di Departemen Media, nyari teman di Medicinus (UKM majalah FK) jadi kontributor, di FKDF kenalan sama teman-teman beda fakultas…

Saya akhirnya belajar banyak. Melihat dan berkenalan dengan teman-teman kampus yang Subhanallah luar biasa, semakin membulatkan tekad saya untuk mengembangkan DS untuk menjadi pabrik kader yang benar-benar kader. Kader seperti Anis Matta, seperti Syekh Ahmad Yassin, seperti Ayyat AKhras, seperti Aria Rajasa, seperti Rizky Andhika, seperti Putri Nadya Syahidah, sepert Tanri Arrizasyifaa, seperti Yahdi SIradj, Rini Inggriani, Anita Asmara, dan semuanya yang tak bisa saya sebut satu-satu. Orang-orang yang Subhanallah luar biasa kontribusinya untuk da’wah.

ITSAR? Seperti tulisan saya pada ITSAR 2015 part 1. ITSAR HARUS MENJADI TEMPAT BERKEMBANG TERBAIK untuk KADER-KADERNYA. Tak bisa mengandalkan rapat sekali sebulan untuk para kader, tanpa pemberian amanah yang pasti, tanpa fasilitas yang jelas, di mana seseorang akan berkembang. STRUKTUR yang jelas. (PR-kita semua-Sal ^^). Struktur yang jelas, amanah yang jelas. Karena ke depannya kita akan bertemu kasus-kasus Anta yang lain. Alumni yang sudah menginjak kuliah. Ingin berperan di kampus. Jangankan kuliah, di SMA pun sudah terlihat kan? Ini fitrah. Karena setiap orang memang butuh pengembangan dirinya bertemu dengan momen dan tempat yang pas, sehingga akhrinya potensi yang melejit muncul. Dan kampus menyediakan itu semua. ITSAR? Tentu bisa. ITSAR harus menjadi contoh DS yang benar-benar bisa mengembangkan potensi kadernya, memfasilitasi semua bentuk kontribusi sampai hal sekecil-kecilnya. Hingga akhirnya cita-cita kita: MERAJAI DS DUNIA bisa diwujudkan. Insya Allah.

Mencita-citakan tempat ini akan menjadi tempat terbaik pengembangan diri kita, sehingga best effort dan loyalitas pada da’wah yang akan selalu muncul pada amal-amal kita. Inisiasi-inisiasi. Membuat buku ITSAR, film ITSAR, Danus ITSAR, markas ITSAR, Wedding Organizer (ups), Lembaga Training ITSAR, Lembaga Tahfidz ITSAR. Kita tidak sendiri, Akhi, Ukhti. Sekarang begitu banyaknya kader yang ingin karier da’wahnya berkembang di ITSAR, di DS, di SMP. Pondasi yang dulu dibangun para Abu Bakar kita, harus diteruskan, harus dirapihkan, diperbaharui kembali, dicari bentuk pasnya, sehingga bisa merangkul semua kader.

Bercita-cita untuk ITSAR selalu tak ada habisnya ya. Tapi… semuanya dimulai dari mimpi kan? Mimpi yang menjadi obsesi bersama. Yang akan terus dicari bagaimana cara untuk merealisasikannya. Belum jauh perjalanan kita, masih banyak aral-melintang yang harus dihadapi, tapi terlihat kan di depan mata? Sebuah kerajaan Da’wah SMP yang megah, yang malaikat pun mendoakan setiap orang di dalamnya..

(ditulis sampai pukul 00.35, saat dua sahabatku masih terjaga menemani belajar PHOP untuk ujian besok)

Jumat, 11 Desember 2009

Ingin jadi Bintang yang Kecil, Kecil saja, tapi bisa menerangi semua

(judul terinspirasi dari FB seseorang, tebak siapa?)

Setiap orang punya kapasitasnya masing-masing, begitu kan banyak orang bilang? Maka setiap amanah yang kita emban harusnya disesuaikan dengan kapasitas ini. Bahwa kamu harusnya tahu, ketika tubuhmu mulai menjerit, jiwamu lelah, ragamu tak kuat, STOP! Kamu sudah mulai kelelahan!

Apa salahnya banyak amanah? Tak salah mungkin. Karena amanahlah yang mungkin paling menjaga kita. Yang akan memberikan energi pada kita.Pernah saking suntuknya, saya tetap memaksakan datang ke sebuah rapat, pulangnya saya bertekad, tak akan bolos rapat bila alasannya capek atau malas, karena Subhanallah, selain dapat beban tugas pasca rapat (hehe) tapi juga mendapat pencerahan; melihat semangat teman-teman yang lain, mengingat bahwa kita merapatkan sebuah perbaikan untuk lingkungan, rasanya cukup membuat saya bertahan.

Namun sering juga disergap rasa lelah yang sangat, rasa kecewa, rasa marah, rasa kesal, terhadap diri sendiri. Saya mengalami disorientasi nilai pada setiap yang saya kerjakan. Untuk apa saya mengerjakan ini? Nampaknya kalo bukan karena tugas, saya ga akan mengerjakan. Untuk apa saya ikut ini itu, untuk apa saya berda’wah?

DISORIENTASI. Hilang arah.

Saya jadi paham mengapa motivasi itu begitu kuat, mengapa WHY itu harus berupa huruf besar dalam pikiran kita.

KARENA ITU YANG AKAN MENJADI MOTIVATOR TERKUAT KITA.

Saat kita capek, lelah, jenuh, pusing.

Ya, saya sedang lelah. Sangat. Bukan lelah bekerja, tapi lelah mencari. Saya jadi sadar mengapa kita semakin dewasa, semakin realistis melihat dunia. Selain pengalaman membawa kita pada kesadaran ini, juga karena makin dewasa sebuah nilai akan semakin berharga untuk diperjuangkan. Motivasi untuk melakukan sesuatu akan semakin dipertanyakan dan akan menambah kuat pekerjaan kita.

Ingin jadi bintang yang kecil, kecil saja, tapi bisa menerangi semua. Saya tahu kapasitas saya terbatas. Bukan sebuah ucapan pesimisme, tapi sebuah upaya penyederhanaan nilai-nilai yang selama ini saya coba terapkan untuk kehidupan saya. Bahwa kepahaman merupakan hal dasar. Al-fahmu. Bahwa da’wah begitu sederhana, nyaman, touchable, realistis, agung untuk jiwa kita. Maka ketika amanah semakin banyak, ketika kapasitas ‘dipaksa’ harus lebih besar lagi, kesiapan kita karena kepahaman dan keyakinan yang sudah terpatri kuat, cukup saja. Cukup untuk menjadikanmu bertahan, untuk ditempa dalam ladang belajar ini.

Ada kalanya kita harus memilih. Saat disodorkan jabatan itu, menjadi ketua, saya rasa tidak harus selalu buruk. Ini benar-benar ladang belajar, ukhti. Tak harus dijadikan beban. Bahwa terkadang jiwa melankolismu muncul, bahwa terkadang hatimu begitu labil, dan rentan stres, jadikan saja ini ladang belajar, ladang pahala, bahwa kau sedang ditempa menjadi lebih baik lagi, untuk memperbesar kapasitas hati, jiwa, dan raga.

Dan ketika lelah kembali menyergap, cukup kembalikan pada Rabb, Pemberi Kekuatan. Pada setiap sholat kita, pada tahajud kita.

Ya, saya ingin menjadi bintang.

Ingin jadi bintang yang kecil, kecil saja, tapi bisa menerangi semua.

Akhwat Memesona Part 1

Ini kisah seorang akhwat yang memesona. Dari SMA sudah tarbiyah, bahkan kelas 3 SMA sudah memegang 2 kelompok binaan, yang dua-duanya dinamis dan efektif. Sebuah amalan yang luar biasa, dari SMA sudah punya investasi ke surga, lewat adik-adik binaannya.

Tiba saatnya ia melanjutkan cita-citanya. Masuk fakultas yang ia impi-impikan dari dulu, Fakultas Kedokteran. Dengan tekun ia mempersiapkan ujian SNMPTN-nya, namun tetap tak lupa untuk terus membina dan dibina. Seorang akhwat yang luar biasa.

Tahun pertama ia diwajibkan ikut ospek dan juga Mabim (masa bimbingan). Dari awal sudah mengalami kesulitan untuk beradaptasi. 2 pekan izin untuk tidak mentoring karena banyaknya tugas individu dan juga kelompok yang harus diselesaikan. Mau tak mau ia harus memprioritaskan ini, karena ia berprinsip untuk melakukan yang terbaik di setiap aktivitas baru di kampusnya. Sang mentor masih memaklumi. Tugas membina pun ia percayakan dahulu kepada orang lain. Nanti akan saya handle kembali setelah selesai masa ospek, begitu pikirnya. Namun ternyata mabim pun lumayan menguras waktunya.

Pekan-pekan awal di kampus memang berat, adaptasi, pengenalan UKM, organisasi, tuntutan akademik, adaptasi proses belajar, berat memang untuk ditimpakan pada pundak seorang mahasiswi baru. Yah, inilah kampus, ukhti..begitu kakak tingkatnya sering memberi nasihat..

Bagaimana dengan adik-adik binaannya? “afwan, sayang, teteh ada mabim, wajib untuk mahasiswa tingkat pertama, mentoringnya kita jadwalkan pekan depan ya?”. Ini SMS-nya 1 bulan yang lalu. Dan ternyata? Sampai saat ini mentoringnya belum juga dilakoni kembali. Apa yang salah denganmu, ukhti?

Lalu, dengan mentoringnya sendiri? “teteh, afwan, saya ga bisa datang hari ini, ada rihlah DKM ke kiarapayung. Saya minta resume materinya aja ya teh, sama tugas kalau ada.”. makin lama, SMS seperti ini semakin sering, alasan untuk tak ikut pun bukan hal-hal yang izinnya syar’I, yang sebenarnya masih bisa tak ikut bila dikomunikasikan dengan baik.

Ini fenomena yang banyak, ukhti. Masuk ke kampus, adaptasi dengan lingkungan baru, namun belum bisa beradaptasi dengan amanah baru. Dia masih akhwat yang memesona? Ya, tentu saja masih. Di kampus dengan cepat ia melejit menjadi aktivis dengan segudang aktivitas da’wahnya. Namun masalahnya ada pada bagaimana ia memprioritaskan aktivitas membina dan dibinanya. Rapat, acara syiar, acara bertingkat nasional, lebih pentingkah dari aktivitas membina atau dibina?

Atau letak masalahnya ada pada bagaimana ia memanajemen waktunya? Aktivitas di kampus yang subhanallah luar biasa, lebih heterogen dibanding saat SMA. Menuntut waktunya lebih.

“ sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh,” (QS Al-Ahzab:72)

Wallahualam. Namun yang terpenting inilah kita, ukhti. Bahkan mungkin kisah ini menampar kamu,atau saya sendiri. Kita tak selektif memilih amanah saat dihadapkan pada lingkungan baru. Memang panggilan kebaikan itu dimana-mana ukhti, tapi tetap juga harus disesuaikan dengan kapasitas kita dan amanah yang telah kita emban sebelumnya. Sejauh apa peran kita dalam amanah itu? Atau sebenarnya masih bisa bila dihandle orang lain?

Saatnya kita memahami kembali urgensi tarbiyah, mengapa kita harus dibina dan membina? Mengapa belajar dan mengajarkan Islam secara kontinyu harus kita lakoni? Tarbiyah bukanlah segalanya, tapi dengan tarbiyah kita bisa memulai segalanya.

Bagaimana kisah akhwat ini selanjutnya? Tetapkah nantinya ia menjadi akhwat yang memesona? Tunggu kisah selanjutnya yaa.. ^^

(Ide cerita: Hasnah, Ria, Hanoi, Sarah, Ari, Myrna)


Blogspot Template by Isnaini Dot Com. Powered by Blogger and Supported by Home Interiors